Ajak Anak Mengenali Emosinya Sendiri

 

"Ale tadi sekolah happy tidak?"

 

"Ale Sad."

 

Waduh. Ada apa nih pikir saya mendengar jawaban si anak lanang ini. Ale pun mengoceh dengan "bahasanya sendiri" yang keluar dari mulutnya memang semacam gumaman, tapi beberapa kata sudah terdengar jelas seperti, "Miss sema", "mawah = marah", "Maskew=masker". Saya pun hanya mengangguk dan mendengarkan ceritanya dengan seksama walaupun untuk menerjemahkan ke dalam bahasa yang baik di perlukan tenaga ekstra.

 Saya berinisiatif bertanya dengan Miss Selma sesampainya di rumah. Dengan ramah dan tenang Miss yang menangani anak-anak preschool itu pun menjelaskan kejadian sebenarnya. Saya pun  tertawa kecil setelah mendengar cerita dari Miss Selma. Jadi cerita bermula, Ale sempat di tegur oleh Miss-nya karena tidak mau memakai maskernya saat kelas bubar. Teguran itu rupanya di terima Ale dengan kesal. Oleh karenanya ia bilang kalau sekolah hari itu tidak membuatnya happy.

 kejadian diatas membuat saya merasa lega karena apa yang saya coba terapkan mulai kelihatan hasilnya. Ale sudah mulai mengenal emosi yang sedang di rasakannya dan mengungkapkannya dengan baik saat perasaan itu muncul.  Karena menurut artikel dari theasianparents.com yang saya baca yaitu,

 

"Salah satu parameter anak yang cerdas emosi adalah bisa mengenali emosi, khususnya emosi yang di rasakannya. Anak akan terbiasa mengungkapkan perasannya lalu berkembang lebih kompleks seiring bertambahnya usia. (https://id.theasianparent.com/kecerdasan-emosional-anak)

Mengajak anak mengenal emosi memang susah-susah gampang. Sebagai orang tua alangkah baiknya kita berperan aktif dan memiliki segudang ide kreatif. Apalagi Ale berada di usia yang lagi aktif banget. Malah terkadang dia acuh saja saat di beritahu. Oleh karena itu saya menggunakan beberapa trik seperti di bawah ini:

 

Bermain tebak mimik wajah

 Trik yang saya gunakan adalah menggunakan ekspresi dan mimik wajah. Saat menunjukan wajah sedih, ekspresi saya akan berpura-pura sedih.  Saat menunjukkan wajah takut, wajah saya di bikin seberkerut mungkin (duh, percuma deh skinkeran tiap hari :-D). Ketika menunjukan wajah happy, maka saya akan tersenyum selebar mungkin dengan tangan di topang ke dagu khas Cherrybelle. Tugas Ale adalah menebak mimik muka saya saat itu. Begitu terus saya ulang setiap hari. Di kesempatan lain, saya menyebutkan nama emosi kemudian Ale akan memperagakannya sesuai kemampuannya.  Usahakan mainnya saat si kecil lagi bagus moodnya .

 

Mengaplikasikan dalam kegiatan sehari-hari

Ketika Ale melakukan sesuatu dan membuat saya kesal seperti menumpahkan minuman atau tidak mau merapikan mainannya, saya menyebut emosi saya sendiri. ”Ale kalau tidak di rapikan mainannya, ibu jadi sad.” Diulang terus bersamaan kegiatan di rumah dengan bermacam jenis nama emosi. Di saat tertentu Ale pun akhirnya bisa menyebut emosinya dengan cepat, semisal di marahi oleh saya dan merasa kesal, ia akan melipat tangannya di dada dan dengan lantang bilang, ”Aye angry!”

 

Bertanya tentang perasaannya hari ini atau setelah terjadi sesuatu.

Saya selalu bertanya tentang perasaannya seusai sekolah, jika menghadapi penolakan dari temannya, atau setelah  di marahi ayah atau ibu. Setiap kejadian yang dia alami hari itu akan menjadi sebuah cerita baginya. Dimulai dengan hal sederhana, Ale habis di belikan mainan paw patrol favoritnya. Ia berjingkrak kegirangan dan bilang, ”Aye happy, Paw Patrol aye.” Memang terdengar membosankan jika harus bertanya setiap hari, tapi kembali lagi ke sisi kreatif orang tua mulai dari cara bertanya yang menyenangkan atau bercerita dulu tentang hal lain baru lah bertanya ke titik masalahnya..

 

Kelihatannya sepele ya, ngapain sih anak harus belajar kayak gitu, ribet, ntar juga lama-lama dia tahu kalau hatinya lagi sedih. Bilang sedih. Lagi marah, ya bilang marah. Gaya kepengasuhan memang rentan di komentari oleh orang lain. Menurut pendapat pribadi saya, kalau si kecil sudah bisa menggambarkan emosinya sendiri, mengenali penyebab emosinya timbul,  ketika dewasa dan menjalani kehidupan yang rumit dan penuh konflik dia bisa mengelola emosinya dengan baik. Mudah berempati terhadap orang lain dan  lingkungannya.

Sebagai orang tua kita berusaha menanamkan yang terbaik untuk masa depan si kecil, oleh karena itu mumpung daya serap si kecil lagi bagus-bagusnya yuk kita berikan ilmu dan pengetahuan kita yang terbaik untuk dia.

 

Sumber :Kecerdasan Emosi Anak

Posting Komentar

6 Komentar

  1. Iya nih bagian seru memang dalam parenting, nebak perasaan anak. Lucu ya moms. Menebak mereka sedang marah, sedang sedih, sedang kesal. Mereka sangat ekspresif hehe..

    BalasHapus
  2. Saya setuju mbak, anak harus mengenali emosi sejak dini, supaya gak jadi anak yang suka memendam jadinya, huhu

    BalasHapus
  3. Betul lho, sampai sekarang aku juga sering bingung dengan perasaan sendiri, misalnya mendadak nggak happy, terus mengingat kenapa ya aku sedih oh ternyata hal ini yang bikin ku sedih...sejak dini memang harus kenal jenis-jenis emosinya agar mudah mengenali dan memecahkan masalahnya ya

    BalasHapus
  4. Ih lucunya Aleee, aduh bener banget mba. Anak tuh mau gimana juga perku diajarin. Keliatan yang sepele sebenernya sangat effort buat para orang tua. One day, kalau aku udah punya anak, aku mau coba menerapkan ini ke anak ku.

    BalasHapus
  5. Ale..pasti lucu ..udah tahu bagaimana mengungkapkan kekesalan dan kesedihan.
    Semangat untuk terus belajar ya..Ale..
    Oh iya..anak temenku di Bantung jual mainan anak berupa karakter, agar anak bisa mengungkapkan emosinya sambil belajar.
    Kereen Mbak..

    BalasHapus
  6. Wah ini penting banget dilakukan. Anak akan paham mengenai emosi diri sehingga bisa mengendalikan. Tulisan cakep mbak

    BalasHapus